B a n d u n g koransamudra.com
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menerapkan metode Sistem Pemberdayaan Masyarakat (Sisdamas) dalam pelaksanaan pengabdian di Kampung Makbul, RW 04, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Metode tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menentukan persoalan, potensi, hingga program yang akan dijalankan selama KKN.
Hal tersebut disampaikan mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung saat ditemui di Kampung Makbul, Rabu (5/8/2026). Salah seorang mahasiswa, Akbar, mengatakan Sisdamas berbeda dengan pola KKN yang program kerjanya sepenuhnya ditentukan oleh mahasiswa atau kampus.
“Jadi intinya kita nggak bawa proker dari kampus, jadi pure muncul dari masyarakat sendiri,” ujar Akbar.
Secara kelembagaan, UIN Sunan Gunung Djati Bandung memang menjadikan KKN Reguler Sisdamas sebagai salah satu bentuk KKN yang menggunakan metode berbasis pemberdayaan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya menjalankan pengabdian, tetapi juga melakukan proses belajar sosial dan riset terhadap kondisi masyarakat melalui tahapan pemberdayaan.
Mahasiswa KKN di Kampung Makbul menjelaskan bahwa metode Sisdamas dilaksanakan melalui empat siklus. Siklus pertama dimulai dengan sosialisasi awal dan rembug warga. Tahap tersebut digunakan mahasiswa untuk mengidentifikasi masalah, potensi, serta harapan masyarakat yang nantinya menjadi dasar penyusunan program kerja.
“Di siklus pertama itu mencari masalah, potensi, sama harapan. Nah, yang di mana masalah, potensi, harapan di sini itu untuk mencari apa yang akan menjadi proker kita ke depannya,” ungkap Alex.


Tahap berikutnya adalah pemetaan sosial dan pengorganisasian masyarakat. Pada tahap ini, mahasiswa melakukan pendataan serta membantu perangkat desa maupun RW memperoleh informasi mengenai kondisi masyarakat. Pendataan dilakukan secara langsung, termasuk melalui kunjungan dari rumah ke rumah.
Menurut Alex, pemetaan tersebut tidak hanya bertujuan mengetahui kondisi sosial warga, tetapi juga melihat potensi yang dapat dikembangkan. Data mengenai pekerjaan dan penghasilan masyarakat menjadi salah satu informasi yang diperhatikan dalam proses tersebut.
Setelah pemetaan dilakukan, mahasiswa memasuki siklus ketiga berupa perencanaan sinergi program. Program yang dirancang kembali mengacu pada hasil identifikasi masalah, potensi, dan harapan masyarakat.
Di Kampung Makbul, mahasiswa menemukan sejumlah persoalan yang menjadi perhatian warga, terutama di bidang pendidikan dan pengelolaan sampah. Dari hasil musyawarah, masyarakat menyepakati program pojok membaca sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas literasi anak-anak.
“Di pendidikan kita akan membuat pojok membaca, itu pun kembali lagi ke masyarakat, dan alhamdulillahnya kemarin masyarakat setuju untuk mengadakan pojok membaca,” ujar Alex.
Selain pendidikan, persoalan pengelolaan sampah juga menjadi perhatian. Meskipun sistem pengelolaan sampah di Kampung Makbul dinilai sudah berjalan cukup baik, mahasiswa melihat masih terdapat peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan masyarakat.
Akbar menjelaskan bahwa selama ini pengelolaan sampah telah dilakukan dengan cara mengambil sampah dari rumah-rumah warga. Namun, hasil pengelolaan tersebut dinilai belum maksimal dalam memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat.
“Jadi kira-kira dampak untuk masyarakat yang pertama ke pendidikan, yang kedua ke ekonomi masyarakat,” ujar Akbar.
Atas dasar tersebut, mahasiswa KKN mendorong adanya rekonstruksi dalam pengelolaan sampah agar hasilnya tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi warga.
Selain dua program utama tersebut, mahasiswa juga menyiapkan program pendukung bernama Gerakan Orang Tua Peduli Anak (GOTA). Program tersebut muncul dari keresahan masyarakat terhadap sejumlah persoalan yang berkaitan dengan anak dan remaja, seperti penggunaan telepon genggam secara berlebihan dan pergaulan anak muda.
Alih-alih mengadakan seminar konvensional, mahasiswa memilih pendekatan yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat, yakni melalui kegiatan nonton film bersama yang dilanjutkan dengan diskusi.
“Kita itu mengambil seminar dengan cara yang berbeda dengan menghadirkan nonton film bersama. Jadi nanti rencana Jumat malam kita mau mengadakan nobar di sini,” ujar Akbar.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa berharap kegiatan KKN tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi mampu mendorong perubahan kebiasaan di tengah masyarakat. Salah satu sasaran yang menjadi perhatian adalah anak-anak dan pemuda yang dinilai membutuhkan ruang berkegiatan secara positif.
Akbar mengatakan keberadaan pojok baca diharapkan dapat menjadi alternatif bagi anak-anak dan pemuda ketika berkumpul di lingkungan Posyandu yang selama ini menjadi salah satu tempat berkumpul warga muda Kampung Makbul.
“Dengan adanya ini anak-anak muda di sini kalau kumpul itu kumpul yang bermanfaat,” ujarnya.
Menurutnya, dampak sebuah program tidak selalu harus terlihat dari banyaknya orang yang langsung mengikuti kegiatan. Ia menilai satu atau dua orang yang memperoleh manfaat dari program pun dapat menjadi awal penyebaran pengetahuan kepada masyarakat lainnya.
“Meskipun yang membaca hanya satu atau dua orang, tapi satu atau dua orang ini bisa menyebarkan ke yang lain,” ujar Akbar.
Bagi mahasiswa, keberhasilan metode Sisdamas pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak program kerja yang terlaksana. Keberhasilan justru berkaitan dengan kemampuan mahasiswa dalam mendorong masyarakat untuk mengenali persoalannya sendiri dan menemukan solusi yang dapat dijalankan bersama.
“Dampak bagi kampus sendiri menjadi satu tolak keberhasilan, karena sistem ini baru dibilang berhasil ketika kita mampu memberdayakan masyarakat,” ujar Akbar.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep KKN Sisdamas UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menempatkan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat sebagai bagian utama dalam pelaksanaan KKN. Model Sisdamas sendiri telah dikembangkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai model pengabdian yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat dalam proses pemecahan persoalan sosial.
Bagi mahasiswa KKN di Kampung Makbul, proses tersebut juga menjadi pembelajaran bahwa pelaksanaan KKN tidak dapat disamaratakan untuk setiap wilayah. Program yang sesuai di satu daerah belum tentu relevan diterapkan di daerah lainnya.
Akbar menilai pemetaan sosial menjadi bagian penting sebelum mahasiswa menentukan bentuk pengabdian. Menurutnya, kebutuhan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama agar kehadiran mahasiswa benar-benar memberikan manfaat.
“Jadi kalau contohnya kita KKN di perkotaan dengan masyarakat yang memang sudah berkembang kira-kira perlu KKN nggak di sana, tentu tidak kan. Nah, di era sekarang itu masih banyak kampus yang biasanya salah menempatkan mahasiswa untuk KKN,” tuturnya.
Dengan demikian, KKN Sisdamas di Kampung Makbul tidak sekadar menjadi kegiatan sementara bagi mahasiswa, tetapi diarahkan untuk membangun program berdasarkan kebutuhan warga. Melalui program pendidikan, pengelolaan sampah, serta kegiatan pendampingan anak dan keluarga, mahasiswa berharap manfaat KKN dapat terus dirasakan masyarakat meskipun masa pengabdian mereka telah berakhir.
**Moch Syahril Madridho












