

B a n d u n g koransamudra.com
Di balik bentang pegunungan dan kepadatan permukiman Kota Bandung, tersimpan sejarah geologi yang berlangsung sejak puluhan ribu tahun lalu. Kawasan yang kini menjadi ruang hidup jutaan orang tersebut merupakan bagian dari Cekungan Bandung yang menyimpan jejak keberadaan Danau Purba Bandung sekaligus berada di sekitar sejumlah struktur sesar aktif.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar Review#008 yang digelar di Selasar Sunaryo Art Space, kawasan Dago Pakar, Bandung, Sabtu (8/8/2026). Seminar tersebut mengangkat persoalan risiko bencana dan bagaimana masyarakat memandang serta menata kembali ruang hidup di tengah ancaman kebencanaan.
Dalam pemaparannya, Dr. Adi Hidayat menjelaskan bahwa sejarah kawasan Bandung tidak dapat dilepaskan dari perubahan geologi yang berlangsung dalam waktu sangat panjang. Jejak kehidupan manusia purba bahkan telah ada jauh sebelum Bandung menjadi kawasan perkotaan seperti sekarang.
“Sekitar 90.000 tahun lalu, manusia purba masih hidup di gunung-gunung tinggi,” ujar Dr. Adi Hidayat dalam seminar tersebut.
Sejarah geologi itu kemudian meninggalkan salah satu karakter penting Cekungan Bandung, yakni keberadaan endapan danau purba. Lapisan tersebut kini menjadi bagian dari kondisi bawah permukaan kawasan Bandung.
“Kita itu berada di atas endapan danau purba, dan gempa ini perlu dikhawatirkan karena kita hidup di atas endapan lumpur yang belum terkonsolidasi,” kata Adi.
Kondisi tanah tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan potensi gempa. Guncangan gempa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan sumber gempa, tetapi juga oleh karakteristik tanah yang dilewati gelombang seismik. Endapan sedimen yang relatif lunak dapat memberikan respons berbeda terhadap guncangan dibandingkan batuan yang lebih keras.
Ancaman tersebut semakin penting karena Bandung berada di kawasan yang dekat dengan sejumlah sumber gempa aktif, salah satunya Sesar Lembang. Badan Geologi menyebut Sesar Lembang sebagai sesar aktif yang membentang sekitar 29 kilometer di utara Bandung. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa sesar tersebut memiliki laju pergeseran dan riwayat aktivitas tektonik yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana.
Dalam seminar, Adi menyoroti skenario ketika pergerakan Sesar Lembang terjadi pada segmen yang panjang secara bersamaan.
“Kalau kejadian pembentukan Sesar Lembang itu bergerak bersamaan dari timur sampai barat, itu dampak paling negatif yang kita khawatirkan karena akan memicu gempa,” ujarnya.
Ia menyebut panjang Sesar Lembang sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan potensi kekuatan gempa.
“Kalau Sesar Lembang itu bergerak 29 km bisa menghasilkan 6,5 sampai 7 magnitude,” kata Adi.
Pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai potensi berdasarkan skenario geologi, bukan prediksi bahwa gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi dalam waktu tertentu. Penelitian mengenai Sesar Lembang memang menunjukkan potensi gempa signifikan, tetapi waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan secara presisi.
Risiko Bandung, dengan demikian, tidak berhenti pada keberadaan sesar. Kondisi tanah, kepadatan bangunan, jumlah penduduk, serta kesiapan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari risiko bencana.
Memahami Gempa dari Gelombangnya
Dalam pemaparannya, Adi juga menjelaskan bahwa gempa menghasilkan beberapa jenis gelombang yang memiliki karakter berbeda. Dua di antaranya adalah gelombang primer atau P dan gelombang sekunder atau S.
“Di dalam gempa itu ada dua gelombang, gelombang P dan gelombang S. Gelombang P adalah gelombang primer atau yang muncul pertama kali, sedangkan gelombang S adalah gelombang sekunder atau gelombang susulan yang muncul perlahan, namun paling banyak memicu kerusakan,” ujarnya.
Pemahaman tersebut menjadi penting dalam konteks mitigasi. Kedatangan gelombang P yang lebih cepat dapat menjadi salah satu dasar sistem peringatan dini gempa untuk memberikan waktu beberapa detik sebelum gelombang yang lebih merusak tiba, meskipun waktu yang tersedia sangat singkat dan tidak selalu sama di setiap lokasi.
Karena itu, mitigasi tidak cukup dilakukan setelah bencana terjadi. Masyarakat perlu mengetahui tindakan sederhana yang dapat dilakukan sejak guncangan pertama terasa.
Adi kemudian menawarkan cara sederhana agar masyarakat lebih mudah mengingat respons ketika gempa terjadi.
“Kira-kira kalimat apa yang singkat tapi mudah diingat oleh masyarakat, saya spontan berbicara GEMPA, Gerakan Menunduk Lindungi Kepala,” ujarnya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya melindungi bagian tubuh yang paling rentan saat guncangan berlangsung. Dalam praktik keselamatan gempa, masyarakat juga perlu berlindung di bawah meja atau struktur yang kokoh jika tersedia, menjauhi kaca dan benda yang berpotensi jatuh, serta tidak terburu-buru keluar bangunan ketika guncangan masih berlangsung.
Mitigasi Dimulai dari Ruang Hidup
Pembahasan mengenai ancaman gempa pada akhirnya membawa persoalan kebencanaan ke pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana manusia membangun dan menata ruang hidup di atas lanskap yang memiliki risiko geologi?
Bandung berkembang menjadi kawasan metropolitan dengan permukiman, fasilitas publik, pusat ekonomi, dan berbagai infrastruktur yang semakin padat. Pada kondisi tersebut, ancaman gempa tidak dapat dipisahkan dari bagaimana bangunan didirikan, bagaimana kawasan dikembangkan, serta bagaimana masyarakat memahami lingkungan tempat tinggalnya.
Artinya, mitigasi bukan semata-mata persoalan menunggu datangnya gempa kemudian melakukan evakuasi. Mitigasi juga harus dilakukan jauh sebelum bencana melalui pemetaan risiko, penerapan standar bangunan tahan gempa, penguatan bangunan yang sudah ada, penataan ruang berbasis risiko, penyediaan jalur dan titik evakuasi, hingga edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Cekungan Bandung sendiri memiliki karakter geologi yang membuat pendekatan tersebut semakin penting. Penelitian mengenai respons tanah di Cekungan Bandung menunjukkan bahwa kondisi sedimen dapat memengaruhi karakter guncangan. Kajian lain juga telah meneliti potensi likuifaksi di sejumlah kondisi tanah dalam cekungan tersebut.
Karena itu, memahami Bandung sebagai ruang hidup tidak cukup hanya melalui peta administrasi. Di bawah jalan, rumah, gedung, dan kawasan permukiman terdapat lapisan geologi yang menyimpan sejarah panjang sekaligus menentukan bagaimana wilayah tersebut merespons ancaman alam.
Seminar Review#008 di Selasar Sunaryo Art Space pada akhirnya tidak hanya mengajak peserta melihat gempa sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai persoalan yang berkaitan dengan hubungan manusia dan ruang hidupnya.
Bandung mungkin telah berubah jauh dari lanskap yang dihuni manusia purba puluhan ribu tahun lalu. Namun, lapisan geologi yang membentuk kawasan tersebut masih berada di bawah kehidupan masyarakat hari ini.
Tantangannya adalah bagaimana masyarakat tidak hanya mengenali sejarah bumi tempat mereka tinggal, tetapi juga memahami risikonya dan mempersiapkan diri sebelum bencana datang.
**Moch Syahril Madridho











