B a n d u n g koransamudra.com
Persaingan kedai kopi di kawasan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, semakin berkembang seiring menjamurnya coffeeshop di wilayah tersebut. Di tengah persaingan itu, SDP menghadirkan konsep berbeda melalui mesin espresso yang mereka rancang secara mandiri dengan memanfaatkan mesin motor.
Inovasi tersebut menjadi salah satu daya tarik utama SDP. Mesin yang umumnya digunakan untuk menggerakkan kendaraan bermotor justru mereka manfaatkan dalam sistem penyeduhan kopi. Selain memiliki bentuk yang unik, inovasi tersebut juga lahir dari keinginan SDP untuk menekan harga pokok produksi (HPP) sehingga dapat menjual kopi dengan harga yang lebih terjangkau.
Indra S., selaku barista SDP, mengatakan gagasan pembuatan mesin tersebut bermula dari keinginan untuk menghadirkan kopi dengan harga murah di Ciwidey. Menurutnya, mesin menjadi salah satu komponen yang memberikan pengaruh besar terhadap biaya produksi sebuah kedai kopi.
“Awalnya itu bikinnya karena pengen bikin harga kopi murah di kita, di Ciwidey paling murah. Bisa dibilang kopi kita di sini itu paling murah,” ujar Indra saat diwawancarai pada 4 September 2026.
Keinginan tersebut mendorong SDP mencari alternatif dari mesin espresso komersial yang memiliki harga relatif tinggi. Mereka kemudian memilih merancang mesin sendiri dengan konsep do it yourself (DIY), termasuk mengembangkan berbagai komponen yang mereka perlukan.
Indra menjelaskan bahwa ide tersebut mendapat inspirasi dari mesin espresso yang memanfaatkan mesin kendaraan. Salah satu referensi mereka berasal dari mesin serupa yang menggunakan mesin BMW. Namun, harga mesin tersebut membuat SDP mencari alternatif yang lebih sesuai dengan anggaran mereka.
“Kita itu memikirkan caranya bagaimana kopi murah. Jadi di dalam perkopian, apalagi penjualan, HPP paling besar itu HPP mesin. Kita itu ngulik sampai bikin mesinnya,” kata Indra.
Dalam proses pembuatannya, SDP mengembangkan mesin mulai dari headgroup, kompresor, hingga sejumlah komponen lainnya secara mandiri. Mereka menyesuaikan rancangan tersebut dengan komponen yang mudah mereka dapatkan dan tetap mampu menjalankan fungsi penyeduhan espresso.
Pada awalnya, SDP berencana menggunakan mesin motor Tiger sebagai bagian dari rancangan tersebut. Namun, mereka kesulitan menemukan mesin yang sesuai karena keterbatasan stok. Setelah mencari alternatif, mereka akhirnya menemukan mesin GL dan mencoba menggunakannya.
Eksperimen tersebut menghasilkan mesin espresso dengan tampilan yang tidak biasa. Keunikan tersebut kemudian menarik perhatian masyarakat dan membuat mesin racikan SDP semakin dikenal.
“Awalnya kita mau pakai mesin Tiger, tapi sayangnya waktu itu lagi enggak ada stoknya, kita cari enggak nemu. Akhirnya nemu GL, dicoba dan cocok. Alhamdulillah viral,” tutur Indra.


Keberadaan mesin tersebut kemudian memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung SDP. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati minuman kopi, tetapi juga dapat melihat langsung mesin hasil eksperimen yang memadukan dunia otomotif dengan perkopian.
Meski mengandalkan inovasi mesin sebagai daya tarik, SDP tetap berusaha menjaga kualitas kopi. Indra menegaskan bahwa harga murah bukan berarti SDP mengurangi kualitas bahan maupun proses penyeduhan. Mereka justru melakukan efisiensi pada berbagai tahapan produksi agar dapat mempertahankan kualitas sekaligus menjaga harga jual.
“Yang kita lakukan di saat maraknya coffeeshop di Ciwidey, pasti kita menjaga kualitas dengan harga seminim mungkin. Bukan dengan cara merugi, akan tetapi kita melakukan efisiensi mulai dari proses sampai penyeduhan agar HPP tetap rendah,” jelasnya.
Efisiensi tersebut SDP lakukan dari hulu hingga hilir. Mereka memperoleh biji kopi dari petani, kemudian mengolah dan memprosesnya sendiri hingga melakukan roasting. Pengelolaan berbagai tahapan secara mandiri membantu SDP mengontrol kualitas sekaligus menekan biaya produksi.
SDP saat ini menyediakan tiga pilihan arabika Cisondari dengan metode pengolahan natural, honey, dan wine. Sementara itu, untuk menu espresso-based, mereka menggunakan blend dari tiga varietas kopi, yakni arabika, robusta, dan excelsa.
Biji kopi untuk campuran tersebut SDP dapatkan dari petani di kawasan Gambung. Penggunaan kopi dari petani lokal juga menjadi bagian dari upaya SDP membangun rantai produksi kopi yang lebih dekat dengan wilayah sekitar Ciwidey dan Pacira.
Bagi SDP, keberadaan coffeeshop tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menjual kopi kepada konsumen. Mereka juga ingin membangun ekosistem kopi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, prosesor, hingga pemilik coffeeshop lainnya.
Indra berharap SDP dapat terus berkembang dan melakukan ekspansi. Ia juga ingin SDP membangun ekosistem kopi di kawasan Pacira dengan mempertemukan para pelaku kopi dalam satu jaringan yang saling mendukung.
“Semoga saja makin maju, kita bisa ekspansi, dan juga membuat ekosistem sendiri terutama di Pacira ini. Insyaallah kita bisa menyatukan para petani kopi, para prosesor kopi, dan juga coffeeshop-coffeeshop yang ada di sini agar menjalin ekosistem yang sehat,” ungkapnya.
Inovasi mesin espresso berbasis mesin motor akhirnya menjadi identitas tersendiri bagi SDP. Di balik bentuknya yang unik, mesin tersebut lahir dari upaya menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas kopi.
Kehadiran SDP menunjukkan bahwa inovasi dalam industri kopi tidak hanya dapat muncul melalui racikan minuman. Kreativitas juga dapat hadir melalui teknologi, efisiensi produksi, serta pemanfaatan komponen yang tidak lazim digunakan dalam dunia perkopian.
Dengan memadukan konsep kopi lokal, proses produksi mandiri, harga terjangkau, dan mesin espresso hasil eksperimen sendiri, SDP mencoba mengambil posisi berbeda di tengah semakin banyaknya coffeeshop yang berkembang di kawasan Ciwidey.
**Moch Syahril Madridho












