Kabupaten Bandung – Di tengah pesatnya perkembangan kawasan wisata Ciwidey, Kabupaten Bandung, masih berdiri sebuah situs budaya yang terus dijaga keberadaannya oleh masyarakat, yakni Makam Pakemitan Kaduagung. Bagi warga setempat, kawasan tersebut bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir para leluhur, tetapi juga menjadi penanda sejarah penyebaran Islam serta lahirnya wilayah yang kini dikenal sebagai Ciwidey.

Menurut Mamat, warga yang mengetahui sejarah lisan Makam Pakemitan Kaduagung, keberadaan situs tersebut berkaitan erat dengan tiga tokoh penyebar agama Islam yang diyakini pertama kali membuka kawasan Pakemitan Kadu Agung. Ketiga tokoh tersebut ialah Eyang Dalem Rangga Sadana, Eyang Camat Nata Wiguna, dan Eyang Jaga Setru yang berasal dari Banten.

“Beberapa tahun yang lama, ada tiga orang yang berkelana untuk menyebarkan agama Islam hingga sampailah mereka di suatu daerah hutan belantara. Ketiga orang tersebut adalah Eyang Dalem Rangga Sadana, Eyang Camat Nata Wiguna, dan Eyang Jaga Setru. Mereka berasal dari Daerah Banten yang sedang mengembangkan misi Islam di daerah Pakemitan Kadu Agung yang sekarang disebut Desa Ciwidey,” ujar Mamat saat diwawancarai.

Mamat menuturkan, selain menyebarkan agama Islam, ketiga tokoh tersebut juga mengajarkan masyarakat cara bertani serta beternak. Menurutnya, peran mereka menjadi fondasi berkembangnya kehidupan sosial masyarakat di kawasan Pakemitan.

Ia juga menceritakan asal-usul nama Ciwide yang hingga kini masih dipercaya masyarakat. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, nama tersebut muncul setelah ketiga tokoh memindahkan aliran sungai yang melintasi pohon wide.

“…mereka melihat aliran sungai masuk melewati wide yang mereka pakai untuk berteduh dan dari situlah mereka bertiga memberi nama sungai tersebut dengan nama ‘Ciwide’,” kata Mamat.

Tak hanya itu, Mamat juga mengisahkan legenda Kadu Agung yang masih hidup di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa buah kadu atau durian yang dibawa Eyang Jaga Setru ke hadapan Kanjeng Dalem dipercaya memiliki keistimewaan.

“Dengan kesaktian Eyang Jaga Satru dan keridhoan Allah SWT, maka dengan cukup menggoreskan telunjuknya maka terbelahlah kadu/durian itu. Setelah terbelah semakin bertambah aneh dan takjub karena di dalam isi kadu terdapat sebuah barang yang menyerupai pisau berbentuk mirip seperti kujang,” tutur Mamat.

Menurut Mamat, benda tersebut tidak dapat diambil oleh siapa pun. Bahkan, buah durian yang telah dibelah kembali menutup seperti semula sehingga masyarakat meyakini peristiwa itu sebagai asal mula penamaan Kadu Agung.

Mamat juga menjelaskan bahwa nama Ciwidey berasal dari ramalan Eyang Rangga Sadana yang memperkirakan kawasan tersebut akan ramai didatangi orang dari berbagai daerah.

“Kata Ciwidey diambil dari ramalan Eyang Rangga Sadana yang meramalkan bahwa kata Ciwidey di kemudian hari banyak orang datang ke Kota Ciwidey dari kota jauh dan ingin mendatangi termasuk orang kulit putih untuk beristirahat (ngalageday), maka dari kata Ciwide ditambah kata dey-dey, jadilah kata Ciwidey,” ungkap Mamat.

Hingga kini, Makam Pakemitan Kaduagung masih menjadi salah satu situs budaya yang dihormati masyarakat. Selain menjadi tempat ziarah, situs tersebut juga dipandang sebagai simbol penghormatan terhadap para tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam dan pembentukan kehidupan masyarakat di wilayah Ciwidey. Di tengah berkembangnya sektor pariwisata, keberadaan makam tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah lokal tetap hidup melalui cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

**Moch Syahril Madridho

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini