Kabupaten Bandung | koransamudra.com

Menjamurnya coffee shop di kawasan wisata Ciwidey dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan persaingan yang semakin ketat. Di tengah kondisi tersebut, Giri Kemir Coffee memilih bertahan bukan dengan mengejar popularitas sesaat, melainkan melalui konsistensi pelayanan, pengembangan tempat, serta membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Barista sekaligus pengelola Giri Kemir Coffee, Febri, mengungkapkan bahwa perjalanan usaha tersebut bermula dari sebuah vila yang kemudian mulai dikembangkan ke arah komersial pada 2023.

Adapun operasional coffee shop baru berjalan pada pertengahan 2024.
“Pembangunan mulai 2023 terus untuk si coffeeshopnya sendiri jalan 2024. Ini baru dua tahun setengah. 2024 pertengahan. Awalnya Cuma villa biasa, mulai di komersil dari tahun 2023.”
Menurutnya, keputusan menghadirkan coffee shop di kawasan tersebut tidak semata-mata mengikuti tren, melainkan berangkat dari kebutuhan lokasi. Saat itu, pilihan tempat menikmati kopi di sekitar kawasan masih cukup terbatas, sementara target awal Giri Kemir justru bukan masyarakat umum.

“Kalau untuk Giri Kemir sendiri ini mungkin keterpaksaan karena memang tempatnya di sini. Yah jadi Cuma kita melihat-lihat jarak ngopi dari sini ke sana itu lumayan jauh. Terus kan target atau market awalnya kita hotel, penginapan, dan sebenarnya dulu tidak untuk umum. Jadi hanya untuk tamu menginap saja.”

Namun, ekspektasi tersebut berubah seiring berjalannya waktu. Coffee shop yang semula hanya dianggap sebagai fasilitas pelengkap bagi pengunjung vila justru mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar.

“Dan Giri Kemir Coffee ini bukan pokok, kayak yang penting ada aja. Ada aja yang penting memperlengkap. Tapi pada akhirnya dengan market yang seperti ini, kopi luamayan juga. Dengan market pasar masyarakat disini, audiensnya ternyata malah sering datang. Yang tadinya tidak berekspetasi tinggi ke kopinya, ternyata malah masyarakat lokalnya yang makin banyak datang ke sini.”
Konsisten Membuka Pintu Setiap Hari
Di tengah maraknya coffee shop baru yang terus bermunculan di Ciwidey, Febri menilai setiap usaha memiliki strategi masing-masing. Bagi Giri Kemir, konsistensi menjadi fondasi utama.

“Pasti setiap coffee shop punya strateginya masing-masing. Mungkin kalau untuk Giri Kemir konsisten tetap buka walaupun yang beli hanya satu orang atau dua orang. Kami pasti bakal terus hadir di setiap harinya, sama membenahi terus tempat. Karena kan ini belum 100%, ini masih proses, proses, dan proses.”
Baginya, menjaga kehadiran setiap hari jauh lebih penting dibanding mengejar keramaian sesaat. Perbaikan fasilitas juga terus dilakukan sebagai bagian dari proses pengembangan jangka panjang.
Media Sosial Penting, tetapi Kesiapan Tetap Diutamakan

Di era digital, media sosial menjadi salah satu instrumen utama dalam menarik perhatian pelanggan. Meski demikian, Giri Kemir memilih tidak terburu-buru melakukan promosi besar-besaran apabila kapasitas pelayanan belum benar-benar siap.

“Kalau untuk di media sosial harus konsisten, kuncinya kan di media sosial. Nah, tapi hanya media sosial saja tapi pada akhirnya audiens datang ke sini kapok, otomatis kita gagal.”
Febri menjelaskan bahwa pihaknya sengaja menahan intensitas promosi karena mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia.

“Strategi saya yang pasti kenapa Giri Kemir jarang terlihat di media sosial, karena kita memang belum sampai ke sana, tapi apakah SDM kita mampu atau tidak menampung 100 orang yang akan datang.”
Meski demikian, ia tetap mengakui bahwa media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pemasaran coffee shop saat ini.

“Memang benar kalau coffeeshop itu tidak jauh dari media sosial, strategi yang paling utama untuk saat ini di era gempuran banyaknya coffeeshop pasti semua juga di media sosial.”
Tantangan Akses hingga Pelanggan yang Itu-Itu Saja

Dalam operasional sehari-hari, Giri Kemir masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan akses menuju lokasi yang dinilai cukup gelap pada malam hari.
“Untuk kendala dari audiens biasanya komplain ke kami perihal jalan, karena mungkin gelap.”

Selain itu, tantangan lain adalah mempertahankan sekaligus memperluas basis pelanggan.
“Kedua, kendala di kita itu ternyata audiens masih itu-itu saja. Mungkin kakaknya bisa cek langsung ke setiap coffeeshop pasti yang nongkrong itu-itu saja.”

Karena itu, pihak pengelola terus mencari inovasi agar mampu menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung.
Event Menjadi Upaya Menciptakan Pengalaman Baru

Salah satu strategi yang ditempuh ialah menghadirkan berbagai kegiatan tematik. Menurut Febri, event menjadi cara efektif untuk menjaga antusiasme pengunjung sekaligus memperluas jangkauan pasar.

“Yang namanya cofeeshop pasti kuncinya konsisten. Paling harus ada gebrakan baru, karena kan girikemir sekarang istilahnya coffeeshop yang event-event terus.”

Ia mencontohkan penyelenggaraan Fun Run yang mulai digelar pada 2025 dan mengalami peningkatan jumlah peserta pada penyelenggaraan berikutnya.
“Tahun pertama 2025 kita bikin gebrakan fun run, alhmdulillah dengan audiens di 70 peserta, tahun sekarang naik ke 30% jadi 125.”

Ke depan, Giri Kemir juga berencana menghadirkan agenda rutin mingguan, mulai dari pertunjukan akustik, DJ santai pada sore hari, hingga konsep menikmati matahari terbenam di kawasan Giri Kemir.

Selain itu, pembenahan media sosial juga menjadi salah satu fokus pengembangan pada tahun ini. Lalu untuk media sosial tahun ini akan dibenahi lagi dari seluruh media sosial. Karena menurut saya di era sekarang ini keseluruhan media sosial harus ada karena itu jadi pemicu audiens datang ke Ciwidey. Audiensnya tidak hanya lokal tapi internasional juga. Bahkan, terakhir kemarin ada dari Malaysia.”
Tetap Bertahan di Tengah Persaingan
Fenomena bertambahnya coffee shop baru sempat menimbulkan kekhawatiran. Kehadiran sejumlah nama baru seperti Tejas dan Monokala membuat jumlah pengunjung Giri Kemir sempat mengalami penurunan pada awal kemunculannya.
“Meskipun saya sendiri ingin coffeeshop ini terus ramai, dan memang kemarin saya sempat ketakutan karena hadir beberapa coffeeshop baru. Adanya Tejas, lalu Monokala.”

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Setelah memahami karakter pasar di Ciwidey, Giri Kemir justru semakin yakin bahwa setiap tempat memiliki segmen pengunjung masing-masing.
“Seminggu pertama itu terasa merosot, Tapi karena kita sudah tahu, Ciwidey itu tipikal orang yang ada coffeeshop baru didatangi, akhirnya kami merasa tidak takut lagi.”

Menurut Febri, persaingan tidak selalu harus dimaknai sebagai ancaman. Selama sebuah coffee shop mampu menjaga kualitas pelayanan, terus berinovasi, dan hadir secara konsisten, peluang untuk bertahan akan selalu terbuka. Di tengah semakin padatnya industri kedai kopi di Ciwidey, konsistensi menjadi modal utama yang terus dipegang Giri Kemir Coffee untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan sekaligus menumbuhkan pasar secara berkelanjutan.

*** IDOY

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini