Gedung Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (03/09/2026).

B a n d u n g  koransamudra.com

Segelas teh yang kini mudah ditemukan di kafe, pusat perbelanjaan hingga gerai waralaba menyimpan sejarah panjang yang berakar dari perkebunan di Jawa Barat. Jauh sebelum teh menjadi bagian dari industri minuman modern, Gambung di Kabupaten Bandung telah memainkan peran penting dalam pengembangan komoditas tersebut.

Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Erdiansyah, mengungkapkan perjalanan tersebut dalam wawancara pada 3 September 2026. Menurutnya, sejarah teh di Indonesia bermula pada 1684 ketika seorang berkebangsaan Jerman, Andreas Cleyer, membawa tanaman teh ke Batavia.

Saat itu, orang belum mengenal teh sebagai minuman dengan nilai ekonomi tinggi. Tanaman tersebut hanya menjadi koleksi di Kebun Raya Bogor. Baru memasuki abad ke-19, pemerintah kolonial mulai mengembangkan penanaman teh secara lebih serius.

“1827 pertama kali ditanam massal di Cisurupan, Garut. 1828 terjadi penanaman pertama secara komersial, secara besar-besaran di Wanayasa, Purwakarta oleh Jacobson, tujuh juta benih,” ujar Erdiansyah.

Ekspansi perkebunan kemudian mendorong perdagangan teh Indonesia ke Eropa. Pada 1830-an, teh mulai masuk pasar Amsterdam. Perkembangan perkebunan semakin pesat pada 1870-an, terutama di Jawa Barat.

Masa itu melahirkan kelompok pemilik perkebunan yang dikenal sebagai Preanger Planters. Nama-nama seperti Holle, Kerkhoven, dan Bosscha tercatat dalam perkembangan perkebunan teh di berbagai wilayah, termasuk Parakan Salak, Sinagar, Waspada, Arjasari, Gambung, dan Malabar.

Gambung dan Lahirnya Pusat Pengembangan Teh

Gambung memiliki posisi khusus dalam sejarah tersebut. Erdiansyah menjelaskan, kawasan Gambung pada awalnya merupakan salah satu blok kebun yang berada di bawah Rancabolang. Pada 1877, Rudolf Edward Kerkhoven mulai membangun perkebunan Gambung.

Namun, peran Gambung tidak berhenti pada produksi daun teh. Kawasan tersebut berkembang menjadi tempat pengembangan tanaman dan teknologi teh. Salah satu yang penting ialah pengembangan varietas assamica dari India.

“Gambung itu seperti pusat risetnya dulu, tempat pengembangan teh-tehnya. Salah satunya ada jenis teh assamica dari India,” katanya.

Teh memiliki dua kelompok utama, yakni assamica dan sinensis. Assamica memiliki daun lebih lebar dan cocok untuk produksi teh hitam yang banyak diminati pasar Eropa. Sementara sinensis memiliki daun lebih kecil dan banyak berkembang di China serta Jepang untuk produk teh hijau, termasuk matcha.

Menurut Erdiansyah, keberhasilan pengembangan assamica di Gambung kemudian mendorong penyebaran varietas tersebut ke berbagai wilayah, mulai dari Jawa hingga Sumatra. Kondisi itu membuat Gambung memiliki posisi strategis dalam sejarah industri teh Indonesia.

Pada 1901, peran tersebut semakin kuat melalui berdirinya Proefstation voor Thee. Lembaga itu menjadi tonggak pengembangan penelitian teh di Gambung. Nama Rudolf Edward Kerkhoven pun tidak terpisahkan dari sejarah tersebut.

“Kalau tidak ada dia, mungkin bisnis pengembangan teh tidak akan berkembang sampai sekarang,” ujar Erdiansyah.

Sejarah Gambung juga tidak hanya berkaitan dengan perkebunan dan perdagangan. Erdiansyah mencatat, sejumlah Preanger Planters turut membangun pendidikan dan kesenian di kawasan perkebunan.

Salah satu catatan sejarah yang ia soroti terjadi dalam pameran di Paris. Saat itu, Belanda menampilkan kesenian Sunda melalui gamelan Sari Oneng dan tarian ronggeng yang melibatkan pekerja perkebunan teh.

“Setiap Preanger Planters itu tidak hanya menanam teh kemudian mengambil hasilnya. Tapi dia membangun pendidikan dan kesenian yang ada di situ,” katanya.

Warisan tersebut, menurut Erdiansyah, masih hidup dalam tradisi masyarakat Gambung. Salah satunya Hajat Hulu Wetan yang berkaitan dengan sejarah sumber mata air dan penghormatan terhadap para pendahulu kawasan tersebut.

Dari Proefstation hingga PPTK

Perjalanan kelembagaan Proefstation voor Thee kemudian mengalami sejumlah perubahan. Pada 1911, lembaga penelitian tersebut mulai mengembangkan kina, tanaman yang memiliki kaitan erat dengan penanganan malaria pada masa itu.

Kina sebelumnya berkembang di Cinyiruan sebelum turut dikembangkan di Gambung. Pada 1964, penelitian teh dan kina bergabung menjadi Pusat Penelitian Budidaya Teh dan Kina.

Perubahan kembali terjadi pada 10 Januari 1973. Melalui keputusan Menteri Pertanian, lembaga tersebut resmi menjadi Balai Penelitian Teh dan Kina.

Pada 2009, lembaga itu masuk ke lingkungan Perkebunan Nusantara dan berada di bawah PT Riset Perkebunan Nusantara bersama sejumlah pusat penelitian komoditas lainnya.

Hingga kini, PPTK Gambung menjalankan tiga fungsi utama. Pertama, penelitian dan pengembangan teh serta kina, mulai dari benih, klon, varietas hingga teknologi budidaya. Kedua, lembaga tersebut memberikan pelayanan berupa konsultasi, pendampingan, kajian dan rekomendasi kepada para pemangku kepentingan. Ketiga, PPTK bersama asosiasi ikut menyusun naskah akademik dan policy brief sebagai bahan kebijakan pemerintah.

Industri Hilir Tumbuh, Petani Belum Sejahtera

Ironisnya, di tengah panjangnya sejarah dan kuatnya penelitian teh di Indonesia, kondisi petani teh belum menunjukkan perkembangan sebanding dengan industri hilir.

Erdiansyah melihat konsumsi teh justru semakin berkembang. Gerai es teh bermunculan di berbagai tempat. Kafe menawarkan matcha dan teh oolong. Sejumlah jaringan waralaba internasional seperti Chagee, Sancha, Chatime, Mixue dan Tianlala juga mengandalkan teh sebagai bahan utama produknya.

“Teh itu secara hilir meningkat. Sekarang kalau kita ke mal atau ke mana pun tidak ada yang tidak membuka gerai es teh,” katanya.

Pertumbuhan itu belum sepenuhnya mengalir ke sektor hulu. Petani teh masih menghadapi persoalan kesejahteraan dan daya saing. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan dalam rantai pasok teh nasional.

“Kalau hulunya tidak meningkat, ada gap. Berarti ada ketimpangan yang harusnya dinikmati oleh petani, dinikmati oleh bagian lain dalam proses rantai pasok itu,” ujar Erdiansyah.

Persoalan semakin kompleks karena Indonesia masih mengandalkan pasokan teh impor. Erdiansyah menyebut sekitar 70 persen volume impor teh Indonesia berasal dari Vietnam.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi industri teh nasional. Di satu sisi, pasar domestik terus membuka ruang baru bagi produk berbasis teh. Di sisi lain, sektor hulu belum mampu menikmati pertumbuhan tersebut secara optimal.

Bagi Gambung, persoalan itu menjadi bagian dari tantangan baru setelah melewati perjalanan panjang sejak era kolonial. Jika dahulu kawasan ini menjadi tempat pengembangan varietas dan teknologi teh untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa, kini tantangannya ialah memastikan perkembangan industri teh juga mengangkat kehidupan petani di dalam negeri.

Sejarah panjang Gambung akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana teh tumbuh dan berkembang di Indonesia. Lebih jauh, sejarah tersebut menyisakan pertanyaan tentang siapa yang paling menikmati nilai ekonomi dari secangkir teh yang semakin mudah ditemukan di berbagai sudut kota.


**Moch Syahril Madridho

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini